Kami bekerja sejak tahun 2008 dan kami mengembangkan strategi kami sendiri dalam bekerja sama dengan klien kami dan memenuhi kebutuhan digital mereka.

Srisadhana Amerthanadi didirikan oleh Dewa Herbie (dewaherbie.com) pada tanggal 18 Januari 2010. Namun, usaha ini telah beroperasi dan memberikan layanan sejak tahun 2008, sebelum resmi membuka kantornya di Pasar Mentigi, Nusa Penida pada tanggal tersebut. Sebagai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) pertama di Nusa Penida yang berfokus pada layanan percetakan dan digital printing, Srisadhana Amerthanadi menawarkan kualitas cetak yang setara dengan mesin cetak offset. Nama Srisadhana Amerthanadi terinspirasi dari mitologi Hindu, sebagaimana dijelaskan oleh mendiang Jero Mangku I Dewa Gede Matur (kakek dari Dewa Herbie).
Srisadhana Amerthanadi sebelumnya menawarkan berbagai layanan, antara lain reparasi komputer dan printer, pengembangan website, serta penjualan perlengkapan kantor, aksesoris komputer, dan berbagai produk lainnya.
Pada November 2023, Srisadhana Amerthanadi mengganti nama dan membagi layanannya menjadi dua perusahaan terpisah. Srisadhana kini fokus pada jasa percetakan dan fotokopi di Nusa Penida – Anda dapat mengunjungi website kami di www.srisadhana.com untuk informasi lebih lanjut.
Sedangkan Amerthanadi Studios bergerak dibidang jasa Online seperti pembuatan website, jasa promosi, jasa perbaikan website, dan sebagainya yang dapat Anda lihat di website kami amerthanadi.com
Kami berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan printing anda. Didukung oleh mesin – mesin berteknologi tinggi dengan mengutamakan kualitas, ketepatan waktu, harga yang kompetitive, tempat yang nyaman dan pelayanan yang ramah.
Logo ini sederhana namun impactful, mudah dikenali di media digital atau cetak, dan mencerminkan identitas studio sebagai pelopor kreatif yang berakar pada pengalaman lama.
Logo membentuk huruf "A" (inisial dari "Amerthanadi") melalui garis-garis tebal yang miring dan terputus-putus, membentuk segitiga runcing ke atas. Bentuk ini melambangkan ambisi, pertumbuhan, dan arah maju – seperti panah yang menunjuk ke atas, mewakili aspirasi studio untuk terus berkembang sejak didirikan pada 2008. Garis kuning yang melengkung dan terbuka menciptakan kesan alur kreatif dan aliran ide, seolah-olah mewakili proses seni atau storytelling yang mengalir tanpa batas, sesuai dengan esensi sebuah studio kreatif.
Teks ini tertanam di dalam garis-garis logo, dengan "SINCE" mengikuti lekuk kuning dan "2008" di bagian bawah. Ini melambangkan warisan dan kontinuitas – studio telah berdiri selama 17 tahun (hingga 2025), menekankan pengalaman panjang dalam industri kreatif. Secara simbolis, ini seperti fondasi yang kuat, di mana masa lalu (2008) menjadi dasar untuk inovasi masa depan.
Ruang putih di antara garis-garis membentuk kontras tajam, melambangkan ruang kosong untuk kreativitas atau "canvas kosong" yang siap diisi dengan ide-ide baru. Secara keseluruhan, bentuk ini evokasi kekuatan dan kestabilan geometris, mirip dengan logo modern seperti Adobe atau studio desain lainnya, yang menonjolkan efisiensi dan visi futuristik.

Warna logo memainkan peran psikologis yang kuat, memengaruhi persepsi audiens terhadap brand. Berdasarkan psikologi warna standar (yang sering digunakan dalam desain logo studio kreatif), berikut artinya:
Warna dominan ini melambangkan energi, optimisme, dan kreativitas. Kuning sering dikaitkan dengan inovasi dan kebahagiaan, membuat logo terlihat hidup dan mengundang. Dalam konteks studio, ini mewakili ide-ide segar dan semangat kolaboratif, seperti sinar matahari yang menerangi proses seni. Namun, kuning juga bisa menyiratkan keberanian dan perhatian – studio ingin "bersinar" di industri kompetitif.
Sebagai elemen kontras, putih melambangkan kemurnian, kesederhanaan, dan kebersihan. Ini menciptakan rasa modernitas dan inklusivitas, seolah-olah studio terbuka untuk ide-ide baru tanpa pretensi. Putih juga menambah rasa profesionalisme dan ketenangan, menyeimbangkan energi kuning agar tidak terlalu mencolok.
Latar hitam memberikan kekuatan, misteri, dan elegansi. Ini melambangkan stabilitas dan otoritas, menekankan bahwa Amerthanadi Studios adalah entitas mapan sejak 2008. Secara psikologis, hitam menciptakan kontras dramatis yang membuat elemen kuning dan putih "pop", meningkatkan visibilitas dan daya tarik visual.
Kombinasi ini (kuning-putih-hitam) menciptakan keseimbangan antara dinamisme kreatif (kuning) dan keandalan profesional (hitam-putih), ideal untuk studio yang ingin menarik klien korporat atau proyek seni inovatif. Jika ini logo custom atau ada detail spesifik dari studio, arti bisa lebih personal – misalnya, kuning terinspirasi dari matahari tropis jika studio berbasis di Asia Tenggara.
SRI SADHANA merupakan nama yang diambil dari cerita mitos Hindu (Bisa dibaca pada lampiran bawah halaman)
Diamana kata Sri merupakan nama dari Betara DEWI SRI yang dalam ajaran Hindu adalah Dewi Kemakmuran / Dewi pembawa Rejeki. Dan kata SRI juga diartikan sebagai wanita / putri yang cantik.
SADHANA dalam bahasa jawanya adalah sandang pangan. Sedangkan di dalam ajaran Hindu adalah nama dari Betara DEWA SADHANA yang artinya Dewa Keberlimpahan, Dewanya uang dan kekayaan.
Sedana memiliki akar kata “se + dhana”. “Se” artinya satu atau tunggal sedangkan “dhana” artinya uang, materi, harta, kekayaan, sumber nafkah. Sehingga sedana merupakan sumber tunggal dari harta benda atau nafkah.
Pada dahulu kala, di ceritakan bahwa di kahyangan Bhatara Guru yang menjadi penguasa tertinggi kerajaan langit memerintahkan segenap para dewa dan dewi untuk bergotong royong membangun istana baru. Siapa yang tidak mentaati perintah ini akan dipotong tangan dan kakinya. Mendengar perintah ini, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat cemas, karena dia tidak mempunyai tangan dan kaki. Karena sangat ketakutan, ia meminta nasehat kepada Bhatara Narada, akan tetapi Bhatara Narada pun tidak bisa menemukan cara untuk membantunya. Akhirnya Dewa Anta pun menangis.
Tetesan air mata Dewa Anta jatuh ke tanah, ajaibnya tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau bagai permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang mempunyai cangkang yang indah. Bhatara Narada meyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada Bhatara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni kekurangan Dewa Anta yang tidak bisa ikut bekerja membangun istana. Dengan mengulum tiga butir telur mustika, berangkatlah Dewa Anta menuju istana. Dalam perjalanannya ke istana Dewa Anta bertemu seekor burung gagak yang meyapanya dan bertanya kemana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh dengan telur, ia tidak bisa menjawab pertanyaan si gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga ia amat tersinggung dan marah. Burung itupun lalu menyerang Anta, akibatnya dua butir telur mustika pecah. Dengan ketakutan Anta melata melarikan diri menyelamatkan sebutir telur yang masih tersisa.
Singkat cerita, Dewa Anta tiba di istana Bhatara Guru dan segera mempersembahkan telur mustika itu. Bhatara Guru dengan senang hati menerima telur itu dan memerintahkan kepada Anta untuk mengerami telur itu hingga menetas. Akhirnya telur itu menetas dan yang keluar adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu. Bayi itupun diangkat sebagai anak oleh Bhatara Guru dan permaisurinya. Bayi itu diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri). Seiring berjalannya waktu berlalu, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa, lemah lembut, baik hati, halus tutur kata dan budi bahasanya, memikat semua insa, bahkan Bhatara Guru pun terpikat kepada anak angkatnya itu. Diam-diam Bhatara Guru hendak mempersunting Dewi Sri menjadi istrinya. Melihat gelagat tersebut para dewa khawatir, maka para Dewa berunding mengatur siasat untuk memisahkan Bhatara Guru dengan Dewi Sri, demi menjaga keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan dan menjaga kesucian Nyi Pohaci (Dewi Sri), kemudian para Dewa mengumpulkan berbagai macam racun untuk membunuh Nyi Pohaci. Akhirnya Dewi Sri pun mati keracunan dan para Dewa ketakutan karena sudah membunuh gadis suci yang tak berdosa. Maka jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi.
Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi Dewi Sri, maka dari kuburnya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia. Dari kepalanya muncul pohon kelapa, dari hidung, bibir dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah dan sayur mayur, dari rambutnya muncul rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum, dari payudaranya tumbuh tanaman buah-buahan, sedangkan dari pusarnya muncul tanaman padi. Sejak saat itulah umat manusia mulai memuja, memuliakan dan mencintai Dewi Sri yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan.
Selain disebut sebagai Dewi Sri, dalam masyarakat Hindu di Bali beliau juga disebut sebagai Sri Sadhana atau Rambut Sadhana, Dewi Danu serta Dewa Ayu Manik Galih. Ada yang menarik dalam pemahaman umat Hindu di Bali adalah adanya perwujudan Sri Sadhana, yakni dua arca yang terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana sering disebut sebagai dewata Rambut Sadhana, dewata yang berambut uang (dipuja pada hari Buda Cemeng Klawu). Ada yang menafsirkan bahwa “rambut Sadhana” adalah tempat uang yang tertinggi, karena kata sadhana diartikan uang. Menghias arca dengan uang di Bali merupakan kelanjutan dari tradisi di India. Di Indonesia pada masa yang silam digunakan uang kepeng China (Chiyen), oleh karena itu kita mewarisi dewi Sri Sadhana menggunakan hiasan dan bahkan badannya terbuat dari uang kepeng. Sri Sadhana pada umumnya disungsung atau dipuja oleh kaum pedagang di pasar.
Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang sebagai dewa pemelihara dan penguasa air. Kesuburan dari segala tumbuhan atau tanah tidak dapat dipisahkan dengan adanya air sebagai faktor pendukung kesuburan tersebut. Dalam masyarakat Hindu di Bali mengenal sebutan Dewi Danu sebagai nama lain dari Dewi Sri. Dewi Danu berasal dari dua kata yaitu Dewi dan Danu. Dewi mengandung arti dewa perempuan, perempuan yang cantik dan Danu (bahasa Bali) memiliki persamaan arti dengan danau yaitu daratan yang jeluk yang digenangi air amat luas atau telaga. Jadi Dewi Danu mengandung arti dewi yang sangat dipuja atau disembah sebagai penguasa air atau danau yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan dalam bidang pertanian. Dewi Danu merupakan manifetasi Tuhan, dalam prabawa-Nya sebagai dewi kesuburan. (tesis). Selain itu, Dewi Sri juga disebut sebagai Dewa Ayu Manik Galih, yaitu sebagai dewi yang menguasi pangan (beras atau padi) dan sebagai dewi kemakmuran. Suburnya tanaman pangan yang disebut padi itu adalah simbol kemakmuran ekonomi.
Cerita ini dikutip dari : https://hindu.web.id/mitos-dewi-sri
Kami percaya bahwa website yang baik adalah yang mampu menarik perhatian pengunjung sejak pandangan pertama. Oleh karena itu, kami menawarkan desain website yang modern, intuitif, dan responsif
Apakah Anda ingin memperluas bisnis Anda ke dunia digital? Atau Anda seorang pengusaha yang ingin memiliki platform sendiri? Di Amerthanadi Studios, kami membantu Anda mewujudkan website tour impian Anda!
Jangan biarkan kehadiran online Anda tertinggal di belakang pesaing. Percayakan pembuatan website Anda kepada tim profesional Amerthanadi Studios dan saksikan bagaimana visi digital Anda menjadi kenyataan! Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis dan mulailah perjalanan menuju website yang luar biasa. Bersama-sama, kita bisa mencapai kesuksesan online yang gemilang!
Leave your message in the form below, and we will receive it by WhatsApp!
